Generasi Patah Arang.
Status Mahasiswa menjadi Kebanggan Orang Tua,
Orang tua percaya akan anaknya yg belajar lebih tinggi,
Lebih tinggi menggapai Cita dan Menaikkan martabat keluarga,
Keluarga yang penuh dengan pengharapan akan kesuksesan,
Kesuksesan yang seakan mimpi menjadi kenyataan,
kenyataan melihat anak mereka Sukses dan berhasil,
Berhasil dari pencapaian kemapanan dan kekayaan,
Kekayaan akan materi dari hasil kerja kerasnya.
Kerja kerasnya berbuah senyuman dari orang tua,
orang tua semakin semangat untuk tetap hidup,
hidup dalam kegemilangan suasana yang bahagia,
Bahagia akan upaya cinta dan kasih selama mendidiknya,
mendidik untuk tetap jujur dan Ikhlas dalam bekerja,
Bekerja penuh dengan Loyalitas dan Royalitas.
Namun semua itu hanya sementara,
sementara anaknya yang tumbuh dan besar akan kesuksesan,
kesuksesan dari hasil yang Haram,
kesibukannya bukan karena Akhrat,
namun karena kenikmatan Dunia
maka apapun yang menghasilan kenikmatan dunia
akan selalu dikejar hingga pencapaian nya terealisasi
KORUP, KOLUSI dan NEPOTISME adalah caranya ia Sukses
Maka Keberhasilan orang tua akan menjadi sia-sia
Air mata yang seharusnya untuk kebahagianya anaknya
tumpah karena kebodohan perilaku dan cara berpikir anaknya
anaknya pun harus menerima konsekuensi dari perbuatan haramnya
harus mendekam, di caci maki dan disorot sebagai penjahat
sedangkan orang tua dan keluarganya harus menanggung malu berkepanjangan
bahkan harus mengungsi dari masyarakat.
inilah Generasi Patah Arang
sudah Patah dan jadi Arang Pula.
aJHIR. Balikpapan 29 November 2014.
Pages - Menu
▼
29 November 2014
3 June 2014
MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 1)
MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 1)
Bagi para inspirator, saya akan berbagi cerita tentang cita dan pengalaman yang berawal dari sebuah niat dan semangat yang tumbuh dari hati kecil untuk mewujudkankan apa yang kebanyakan orang hanya bisa bermimpi tapi tidak mempunyai niat dan semangat untuk menggapai awan dengan sejuta pesona diketinggian 3726 mdpl.
Pada awal mulanya saya mendaki gunung Bawakaraeng dengan ketinggian 2830 mdpl di kabupaten Gowa Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Agustus 2008 bersama dengan rekan-rekan Asrama KPMB Makassar dan NIZEP Adventure.
Kemudian pada tanggal 12 May 2013 saya telah berpijak di ketinggian 3676 mdpl Puncak Mahameru gunung Semeru. Begitu penuh semangat dan keyakinan bisa berada di Pucak Mahameru sangatlah haru dan bahagia, karena rintangan dan Traking sangat menantang. Bisa kalian baca ceritanya di sini.
Nah sekarang saya akan menceritakan bagaimana pesona keindahan diketinggian 3726 mdpl. Kalo mau diceritakan pesona keindahan yang begitu menakjubkan dan berkesan sangatlah tidak bisa di bahasakan dan artikan dengan dengan sebuah kata “Menakjubkan” saja, tetapi harus dibuktikan dengan melihat langsung dengan mata telanjang bagaimana Menakjubkan nya itu.
Pada awal mulanya saya mendaki gunung Bawakaraeng dengan ketinggian 2830 mdpl di kabupaten Gowa Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Agustus 2008 bersama dengan rekan-rekan Asrama KPMB Makassar dan NIZEP Adventure.
Kemudian pada tanggal 12 May 2013 saya telah berpijak di ketinggian 3676 mdpl Puncak Mahameru gunung Semeru. Begitu penuh semangat dan keyakinan bisa berada di Pucak Mahameru sangatlah haru dan bahagia, karena rintangan dan Traking sangat menantang. Bisa kalian baca ceritanya di sini.
Nah sekarang saya akan menceritakan bagaimana pesona keindahan diketinggian 3726 mdpl. Kalo mau diceritakan pesona keindahan yang begitu menakjubkan dan berkesan sangatlah tidak bisa di bahasakan dan artikan dengan dengan sebuah kata “Menakjubkan” saja, tetapi harus dibuktikan dengan melihat langsung dengan mata telanjang bagaimana Menakjubkan nya itu.
Team kami hanya berlima, beranggotakan Asdedy, Diko Alvika,
Lintar Alam, M Catur dan Saya sendiri tentunya. Saya, Dedy dan Diko
Berangkat dari Kota Balikpapan menuju Lombok Timur sedangkan Lintar dan Catur
berangkat dari Kota Makassar.
Bandara Internasional Lombok, Mataram
Kami memang berencana Bertemu di Bandara International
Mataram dan melanjutkan perjalanan ke desa sembalun Kecamatan Lombok Timur.
Alhamdulillah kami diantar oleh salah satu Supir yang bernama Agus, ia memang
biasanya mengantar tamu yang ingin mendaki ke gunung Rinjani, ia pula yang
mengarahkan kami untuk menginap disalah satu warga Sembalun yang berprofesi
sebagai Guru. Bapak Bajuari nama guru tersebut, ia sangat ramah dan sangat
membantu memberikan Informasi tentang bagaimana Tracking / Jalur ketika mendaki
gunung Rinjani. Bapak Bajuari pula yang menyarankan kami agar memakai Porter
untuk membantu pendakian kami lancar, memang sih awalnya kami tidak ingin
memakai Porter untuk mendaki tetapi untunglah kami memutuskan memakai Porter
karena memang sangat membantu. Nanti saya ceritakan kehebatan dan kenapa harus
memakai jasa Porter.
Didalam perjalanan menuju Desa Sembalun, Kami singgah mengisi lambung tengah dengan menu sederhana nan berkesan.
Sebelum Memulai pendakian, berfoto bersama dengan Pak Juhari.
Pada tanggal 22 May 2014 kami memulai petualangan kami untuk
menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl, sebelum memulai pendakian saya meregistrasi kawan-kawan di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Biaya Regitrasinya sebesar Rp. 5.000.- perorang dan Perhari untuk Pendaki Lokal.
Kami harus melewati tiga pos dan dua pos extra. Kami memulai perjalanan pada pukul sembilan pagi dari desa Sembalun menuju pos I waktu yang kami tempuh sekitar dua Jam yang berjarak 1,300 M, melewati kebun strawbery dan padang savana dengan keindahan bukit teletubies yang luas dan panas. Kami istirahat di Post I mengatur napas dan mecoba meluruskan badan sejenak untuk menambah kekuatan kami. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pos II dengan jarak tempuh 1,500 M waktu yang kami habiskan sekitar 2 Jam, karna jalurnya menang sudah mulai menanjak dan melewati bukit-bukit indah yang seakan memberikan senyum kepada kami untuk tetap semangat. Seperti halnya di pos I kami pun beristirahat dan makan siang di Pos II, karena waktu menunjukkan jam satu siang. Tenaga pun harus diisi dengan karbohidrat dan energi agar bisa menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl. Ketika kami berada di Pos II kami bertemu dengan team dari Indos*t Adventure yang juga melakukan pendakian, mereka rombongan yang beranggotakan sekitar 28 Orang. Tetapi dua orang duluan dan rencana menginap di Pos III. Sisanya akan memulai pendakian pada esok harinya. Setelah makan siang, sekitar jam satu lewat empat puluh lima menit siang kami melanjutkan untuk ke Pos III yang berjarak 1,800 M dengan jarak tempuh sekitar 2,5 jam, Sesampai di Pos III Extra kami Istirahat Sejenak untuk mengambil air. Karena persedian air kami telah habis. Kami pun mengambil air dibawah bukit yang jaraknya dekat hanya saja sangat curam. Jadi harus berhati-hati ketika menuruni bukit tersebut. Air yang kami ambil bukan dari aliran sungai tetapi air genangan yang ada di lubang tanah yang harus di tenangkan dengan ranting pepohonan agar pasirnya tidak naik kepermukaan. Airnya sangat segar dan tidak berbau hanya saja harus sabar agar pasir nya tidak naik kepermukaan ketika mengambil air. Jarak dari Pos III extra ke Pos III yang sesungguhnya tidaklah jauh sekitar 200 M dengan yang bisalah di tempuh dengan waktu empat puluh lima menit yang melintasi satu bukit yang menanjak.
Dikantor Registrasi Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Kami harus melewati tiga pos dan dua pos extra. Kami memulai perjalanan pada pukul sembilan pagi dari desa Sembalun menuju pos I waktu yang kami tempuh sekitar dua Jam yang berjarak 1,300 M, melewati kebun strawbery dan padang savana dengan keindahan bukit teletubies yang luas dan panas. Kami istirahat di Post I mengatur napas dan mecoba meluruskan badan sejenak untuk menambah kekuatan kami. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pos II dengan jarak tempuh 1,500 M waktu yang kami habiskan sekitar 2 Jam, karna jalurnya menang sudah mulai menanjak dan melewati bukit-bukit indah yang seakan memberikan senyum kepada kami untuk tetap semangat. Seperti halnya di pos I kami pun beristirahat dan makan siang di Pos II, karena waktu menunjukkan jam satu siang. Tenaga pun harus diisi dengan karbohidrat dan energi agar bisa menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl. Ketika kami berada di Pos II kami bertemu dengan team dari Indos*t Adventure yang juga melakukan pendakian, mereka rombongan yang beranggotakan sekitar 28 Orang. Tetapi dua orang duluan dan rencana menginap di Pos III. Sisanya akan memulai pendakian pada esok harinya. Setelah makan siang, sekitar jam satu lewat empat puluh lima menit siang kami melanjutkan untuk ke Pos III yang berjarak 1,800 M dengan jarak tempuh sekitar 2,5 jam, Sesampai di Pos III Extra kami Istirahat Sejenak untuk mengambil air. Karena persedian air kami telah habis. Kami pun mengambil air dibawah bukit yang jaraknya dekat hanya saja sangat curam. Jadi harus berhati-hati ketika menuruni bukit tersebut. Air yang kami ambil bukan dari aliran sungai tetapi air genangan yang ada di lubang tanah yang harus di tenangkan dengan ranting pepohonan agar pasirnya tidak naik kepermukaan. Airnya sangat segar dan tidak berbau hanya saja harus sabar agar pasir nya tidak naik kepermukaan ketika mengambil air. Jarak dari Pos III extra ke Pos III yang sesungguhnya tidaklah jauh sekitar 200 M dengan yang bisalah di tempuh dengan waktu empat puluh lima menit yang melintasi satu bukit yang menanjak.
Istirahat di Pos 1.
Makan Siang di Pos 2.
Oya ada cerita unik nan lucu yang membuat kami tidak akan melupakannya, sahabat saya Diko alvika dengan semangatnya membawa tas ransel yang dia kira adalah tas dari porter yang kami sewa, tetapi ketika di perjalanan ia menanyakan apakah tas ransel tersebut milik poter itu, tetapi porter itu menjawab bahwa tas ransel itu bukan miliknya. Jadi kami semua tertawa terbahak bahak karena Diko begitu bersemangat hingga tas yang ia bawa adalah milik dari sahabat porter yang mengantarkannya ke rumah pak Juhari. Jadi selama perjalanan kami selalu bercanda kalo tas yang di bawa diko itu adalah tas siapa..??
Sesampainya di Pos III kami beristirahat dan bercanda sejenak
agar rasa lelah kami bisa berkurang menambah semangat untuk benar-benar
melangkah melewati Bukit Penyesalan yang memang medannya
sangat-sangat-sangat-sangat menanjak membuat kami yang baru melewatinya sangat
kelelahan dan kelaparan. Kami meninggalkan Pos III menuju Palawangan Sembalun
yang berjarak 2,639 M dengan waktu normal dapat di tempuh selama 4 Jam (yah
waktu untuk kekuatan Porter, Turis Asing dan pendaki yang sering melewati bukit
Penyesalan).
Melepas Lelah di Pos 3.
Kami meninggalkan Pos III sekitar jam 16.00
dengan semangat dan penuh percaya diri bisa menaklukkan bukit penyesalan. Baru
melangkah dari Pos III menuju Pos Extra sudah menggabiskan setengah kekuatan
kami tetapi tidak akan pernah menghabiskan Semangat dan Niat kami untuk
menggapai awan diketinggian 3726 Mdpl. Kami terus berupaya melangkah dan
melangkah agar bisa sampai di palawangan sembalun, hingga matahari terbenam
kami masih berada di area bukit penyesalan yang kami anggap tidak berujung dan
selalu membuat kekuatan kami hampir habis, itu membuat psikologi kami hampir
putus asa tidak dapat melanjutkan perjalanan dimana malam pekat beserta
dinginnya area tersebut membuat kami harus banyak beristirahat dengan beban
pundak yang berat, beban menahan lapar dan beban menahan dinginnya udara
tersebut. Jam tangan ku menunjukkan sekitar jam delapan malam kami masih
melangkah melewati bukit penyesalan ini. Salah satu dari kami masih terus
memberikan semangat dan motivasi agar tetap semangat dan mampu melangkah agar
sampai di Palawangan Sembalun. Semangatnya pun beraneka ragam mulai dari bahasa
“Bonus” jalanan datarlah, jalanan menurunlah padahal tidak ada jalanan itu. Ataupun
semangat palawangan sembalun sudah dekat tinggal satu bukit lagi. Padahal masih
jauh jarak yang kami harus tempuh. Satu jam berlalu ketika saya melihat jam
tangan dan kondisi teman-teman semakin lemah dan lemas. Dikarenakan persediaan
air minum mulai habis begitu pula makanan kecil yang kami bawa masing-masih
telah habis. Kami hanya berharap bagaiama cara bisa melewati bukit penyesalan
ini dengan cepat dan sampai di Palawangan sembalun untuk meminta pertolongan
Porter untuk membawakan kami makanan dan menolong beban kami ini. Kami memang
Lemah dan Lelah tetapi sekali lagi kami tidak akan kehabisan semangat untuk
Menggapai Awan di ketinggian 3726 mdpl.
(bersambung ke part 2)
Keindahan selama perjalanan kami dari desa Sembalun hingga Pos 3
Itu tas Ransel siapa yang kau bawa Diko Alvika.. ?? heheee
MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 2)
MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 2)
Memang sulit menantang bahkan menaklukan bukit penyesalan
dengan beban berat yang kami bawa, tetapi semua itu bisa kami lewati dengan
dengan semangat. Ingat dengan SEMANGAT. Sekali lagi dengan SEMANGAT.
Sebelum saya lanjutkan cerita perjalanan kami, saya akan
memberikan informasi tentang biaya perjalanan kami mulai dari Bandara
International Mataram. Untuk biaya transportasi dari bandara ke desa Sembalun
kami menggunakan carter mobil Ava*za sekitar Rp. 500.000 itu sudah include
dengan biaya bahan bakarnya. Bisa kalian menghubungi Bapak Agus di nomor
telepon +62819 3670 1586. Ia sangat akrab dan banyak bercerita tentang
bagaiamana pesonanya di pulau Lombok, sayangnya ia belum pernah mendaki pucak
rinjani. Tetapi untuk pariwisata, kuliner dan oleh-oleh pulau Lombok ia akan
memberikan informasi yang baik. Sesampai di desa Sembalun pak Agus mengantar
kami di rumah Bapak Juhari. Bapak Juhari seorang guru di desa sembalun, di
rumahnya juga sering dikunjungi banyak pendatang yang menginap untuk menggapai
awan di ketinggian 3726 mdpl. Bapak Juhari sangat ramah dan akrab dengan
pendatang. Dan ia juga banyak memberikan Informasi bagaimana situasi jalur,
kondisi pendakian dan menyarankan kami untuk membawa Ransum yang baik dibawa ke
Puncak. Silahkan menghubungi Bapak Juhari di nomor telepon +62819 1634 9666
atau +62853 3392 8666. Beliau juga yang menyarankan kami untuk menyewa jasa
Porter untuk memudahkan kami dalam pendakian. Bemalam di rumah bapak Juhari
disugukan kopi panas dan Makan Malam yang sederhana namun istimewa bagi kami.
Untuk itu jangan sunkan ketika berkunjung ke desa Sembalun untuk menghubungi
beliau agar memudahkan pendakian menuju puncak Rinjani.
Kami menyewa jasa Porter bernama mas Tan, itunama
panggilannya ia tidak memberikan nama aslinya karena ia sangat pemalu dan
merasa sebagai porter yang baru. Tetapi kami sering memanggilnya Andika. Kenapa
kami memanggilnya Andika karena ia mirip sekali dengan vokalis salah satu band
yang banyak digemari oleh kaum hawa muda. Kami pun tidak terlalu banyak
menanyai nya karena memang ia sangat pendiam, hanya bicara ketika di tanya
saja. Untuk biaya Porter dihargai sebesar Rp. 150.000,- perhari. Kami memakai
jasanya sesuai dengan pembicaraan kami dengan bapak Juhari yaitu selama empat
hari.
Pesona Keindahan di Palawangan Sembalun, Puncak Rinjani seakan Dekat.
Mari kita lanjutkan cerita selanjutnya tentang perjalanan kami yang tersendat di bukit penyesalan. Pada malam itu kami sudah kehabisan tenaga dan merasa lapar, bahan makanan yang dibawa oleh porter yang telah berada di palawangan sembalun. Kami hanya bisa terus mencoba melangkah sekuat tenaga untuk bisa mencapai palawangan sembalun. Saya berinisiatif untuk menghubungi bapak Juhari karena memang diarea bukit penyesalah ada sinyal telepon. Maka saya menghubungi bapak Juhari agar menghubungi porter kami untuk turun kebawah membawa makanan dan membantu kami membawa tas Carrel yang besar dan berat itu. Tetapi pak Juhari tidak bisa menghubungi Porter kami atau pun Porter lainnya di Palawangan Sembalun karena sinyal disana memang jarang ada dan juga telepon selular para porter banyak yang non aktif. Namun inisiatif pak Juhari untuk memberikan kode lampu melaui Headlamp kami di terima di desa Sembalun. Memang untuk jalur itu keliatan dari desa tersebut. Pak Juhari memberi informasi bahwa jarak kami itu sudah dekat palawangan sembalun, beliau berkata sekitar tiga puluh menit lagi sampai di Pos terakhir yaitu Palawangan Sembalun. Tetapi apa daya kami yang telah kelelahan dan kondisi fisik kami menurun. Pak Juhari pun menyarankan untuk salah sau dari kami harus cepat melangkah ke Pos terakhir dan menginformasikan Porter agar Mengevakuasi kami. Lansung saja sahabat saya Dedy dengan semangat yang ia punya langsung melangkah laju walaupun memang kami tau semua tenaga telah habis. Ingatlah bahwa tenaga boleh habis tetapi Semangat tidak akan pernah habis. Dedy tiba di palawangan sembalun sedangkan saya dan diko masih berada dijalur menanjak sedangkan dua teman kami telah berdiam diri di bawah pohon cemara menunggu Evakuasi dan makakan dari bantuan Porter. Untung saja Porter cepat datang dan mengevakuasi dua teman kami yang memang sudah dalam keadaan lelah dan lapar. Nah disinilah Fungsi penting dalam menyewa jasa Porter, selain membantu kami dari menyiapkan tenda ataupun makanan kami, Porter juga befungsi membantu kami dalam Evakuasi ketika kami ada masalah di perjalanan. Porter kami yang bernama Fat dan temannya bernama Farhan membantu kami dengan membawkan kami roti dan selai kacang agar bisa mengganjal perut kami yang sudah keroncongan dan memcoba membantu dua kawan kami yang masih ada di bawah dengan kondisi kelelahan dan kelaparan, bahkan dua kawan kami telah membungkus dirinya dengan sleeping bag agar tidak terlalu kedinginan. Tak lama berjelang kami sampai di Pos terakhir palawangan sembalun. Waktu di jam tangan saja menunjukan pukul sepuluh lima belas menit. Tak lama kemudian dua teman kami telah datang dari evakuasi oleh porter sekitar tiga puluh menit setelah kedatangan saya di pos palawangan sembalun. Kami pun tidak berencana summit ke puncak Rinjani yang merupakan agenda kami kalau subuh ini kami harus summit. Karena kondisi yang sangat kelelahan dan menguras tenaga. Kami memutuskan untuk istirahat dan besok subuh baru kami akan mencoba summit ke puncak Rinjani.
Keesokan harinya kami menikmati pagi di palawangan sembalun
dengan keindahan danau segara anak dan gunung baru membuat kami terkagum akan
pesona keindahan yang di berikan sang Pencipta kepada manusia bahwasanya
karunia yang diberikan melampui akal manusia.
Pagi yang cerah dan mempesona di kelilingi oleh berbagai
turis asing yang juga senang mendaki di puncak rinjani ini. Mulai dari bangsa
Malaysia, Tahiland, Korea, Jerman, Argentina, Belanda, Brazil dan lain-lain.
Mereka memang sengaja untuk menggapain awan di ketinggian 3726 mdpl yang
mempesona itu. Tetapi dari mereka menyewa jasa porter satu orang setiap turis
yang datang. Jadi untuk makanan apapun yang mereka inginkan selalu di sediakan
oleh porter tersebut.
Di pagi yang cerah ini pula ada kegiatan yang menakjubkan,
banyak dari Monyet-monyet berdatangan untuk meminta makanan dari para pendaki,
itu yang membuat para pendaki terhibur karena tingkah laku dari monyet tersebut
yang lucu dan menggemaskan, Monyet tersebut memang liar tetapi tidak kasar dan
menyerang pendaki, monyet tersebut hanya mengulurkan tanganya meminta sisa
makanan dari para pendaki. Bahkan monyet-monyet tersebut berebut makanan dari
lemparan para pendaki. Tak lama waktu berlangsung kabut awan mulai menyelimuti
area palawangan sembalun dan monyet-monyet tersebut pun turun kebukit dan
seraya hilang begitu saja.
suasana di Palawangan Sembalun, monyet-monyet liar yang meminta makanan kepada para pendaki.
Ketika sarapan pagi siap dari kawan-kawan yang membuat
dibantu oleh porter, kami pun sarapan bersama dan menikmati kopi panas ataupun
susu jahe. Setelah sarapan bersama kami mulai berfoto-foto dengan latar
puncak rinjani dan danau segara anak dihiasa oleh samudra awan yang mempesona.
Di palawangan sembalun kami juga menemui sahabat-sahabat dari berbagai daerah ada yang dari Kota Makassar yang mendaki dengan Sembilan orang ditemani oleh seorang yang memang sering membawa tamu ke puncak rinjani.
Di palawangan sembalun kami juga menemui sahabat-sahabat dari berbagai daerah ada yang dari Kota Makassar yang mendaki dengan Sembilan orang ditemani oleh seorang yang memang sering membawa tamu ke puncak rinjani.
Tak terasa siang telah menjelang kami masih menikmati
keindahan palawangan sembalun, semakin siang semankin banyak para pendaki yang
datang dan mendirikan tenda untuk summit subuh nanti. Porter pun memasak sesuai
dengan tugasnya dan sahabat saya Diko Alvika mencoba membuat kue Agar-agar
tetapi kami lupa membeli gula, jadi gula digantikannya denga susu cair yang ada
di perbekalan. Alhsilnya cukup membuahkan hasil, kue agar-agar tersebut jadi
dengan cepat karena memang di palawangan sembalun cukup dingin dan tidak
memerlukan freezer kulkas untuk membuat beku kue tersebut. Siang itu juga kami
bertemu seorang yang telah melanglang buana di ketinggian gunung di Indonesia
bahkan di mancanegara, nama bapak tersebut adalah Asep Serpha. Ia mengantarkan
para peserta dari Indos*t Adventure untuk mendaki puncak Rinjani yang
sebelumnya dia juga mengantarkan team tersebut di puncak Mahameru. Pak Asep
pemilik toko Rumah Petualangan di Depok Jakarta mengajak kami untuk berkunjung
ke kediamannya atau ke tokonya. Pak Asep juga bercerita banyak tentang
pegunungan di Indonesia dan Mancanegara salah satunya Puncak jaya dan Himalaya.
Ia pernah berada di ketinggian dengan hamparan es yang luar biasa. Ia juga
mengajak kami kalau ada biaya bisa menghubunginya dan mengantarkan kami ke
puncak Jaya Wijaya ataupun Himalaya. Pak Asep sangat Friendly dan bergaul
dengan siapa saja, hingga para porter pun banyak yang ia kenal bahkan agak
segan ketika bertemu dengan pak Asep. Pak Asep alumni dari WANADRI yang memang
berpengalaman dalam Adventure lokal maupun International. Kami bercerita
panjang sekali hingga sore menjelang dan menunggu peserta yang belum datang
dari indos*t Adventure. Karena pak Asep adalah pendamping dari kelompok
tersebut.
Sore yang diselimiti oleh kabut dari gunung
rinjani membuat cuaca semakin dingin dan Nampak dari para porter bersiap-siap
membuatkan makan malam dari para pendaki. Kami pun bergegas untuk membuat
jamuan makan malam.
(bersambung ke Part 3)
(bersambung ke Part 3)
Beberapa Keindahan di Palawangan Sembalun




















