3 June 2014

MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 2)

MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 2)

Memang sulit menantang bahkan menaklukan bukit penyesalan dengan beban berat yang kami bawa, tetapi semua itu bisa kami lewati dengan dengan semangat. Ingat dengan SEMANGAT. Sekali lagi dengan SEMANGAT.
Sebelum saya lanjutkan cerita perjalanan kami, saya akan memberikan informasi tentang biaya perjalanan kami mulai dari Bandara International Mataram. Untuk biaya transportasi dari bandara ke desa Sembalun kami menggunakan carter mobil Ava*za sekitar Rp. 500.000 itu sudah include dengan biaya bahan bakarnya. Bisa kalian menghubungi Bapak Agus di nomor telepon +62819 3670 1586. Ia sangat akrab dan banyak bercerita tentang bagaiamana pesonanya di pulau Lombok, sayangnya ia belum pernah mendaki pucak rinjani. Tetapi untuk pariwisata, kuliner dan oleh-oleh pulau Lombok ia akan memberikan informasi yang baik. Sesampai di desa Sembalun pak Agus mengantar kami di rumah Bapak Juhari. Bapak Juhari seorang guru di desa sembalun, di rumahnya juga sering dikunjungi banyak pendatang yang menginap untuk menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl. Bapak Juhari sangat ramah dan akrab dengan pendatang. Dan ia juga banyak memberikan Informasi bagaimana situasi jalur, kondisi pendakian dan menyarankan kami untuk membawa Ransum yang baik dibawa ke Puncak. Silahkan menghubungi Bapak Juhari di nomor telepon +62819 1634 9666 atau +62853 3392 8666. Beliau juga yang menyarankan kami untuk menyewa jasa Porter untuk memudahkan kami dalam pendakian. Bemalam di rumah bapak Juhari disugukan kopi panas dan Makan Malam yang sederhana namun istimewa bagi kami. Untuk itu jangan sunkan ketika berkunjung ke desa Sembalun untuk menghubungi beliau agar memudahkan pendakian menuju puncak Rinjani.
Kami menyewa jasa Porter bernama mas Tan, itunama panggilannya ia tidak memberikan nama aslinya karena ia sangat pemalu dan merasa sebagai porter yang baru. Tetapi kami sering memanggilnya Andika. Kenapa kami memanggilnya Andika karena ia mirip sekali dengan vokalis salah satu band yang banyak digemari oleh kaum hawa muda. Kami pun tidak terlalu banyak menanyai nya karena memang ia sangat pendiam, hanya bicara ketika di tanya saja. Untuk biaya Porter dihargai sebesar Rp. 150.000,- perhari. Kami memakai jasanya sesuai dengan pembicaraan kami dengan bapak Juhari yaitu selama empat hari.

 Pesona Keindahan di Palawangan Sembalun, Puncak Rinjani seakan Dekat.


Mari kita lanjutkan cerita selanjutnya tentang perjalanan kami yang tersendat di bukit penyesalan. Pada malam itu kami sudah kehabisan tenaga dan merasa lapar, bahan makanan yang dibawa oleh porter yang telah berada di palawangan sembalun. Kami hanya bisa terus mencoba melangkah sekuat tenaga untuk bisa mencapai palawangan sembalun. Saya berinisiatif untuk menghubungi bapak Juhari karena memang diarea bukit penyesalah ada sinyal telepon. Maka saya menghubungi bapak Juhari agar menghubungi porter kami untuk turun kebawah membawa makanan dan membantu kami membawa tas Carrel yang besar dan berat itu. Tetapi pak Juhari tidak bisa menghubungi Porter kami atau pun Porter lainnya di Palawangan Sembalun karena sinyal disana memang jarang ada dan juga telepon selular para porter banyak yang non aktif. Namun inisiatif pak Juhari untuk memberikan kode lampu melaui Headlamp kami di terima di desa Sembalun. Memang untuk jalur itu keliatan dari desa tersebut. Pak Juhari memberi informasi bahwa jarak kami itu sudah dekat palawangan sembalun, beliau berkata sekitar tiga puluh menit lagi sampai di Pos terakhir yaitu Palawangan Sembalun. Tetapi apa daya kami yang telah kelelahan dan kondisi fisik kami menurun. Pak Juhari pun menyarankan untuk salah sau dari kami harus cepat melangkah ke Pos terakhir dan menginformasikan Porter agar Mengevakuasi kami. Lansung saja sahabat saya Dedy dengan semangat yang ia punya langsung melangkah laju walaupun memang kami tau semua tenaga telah habis. Ingatlah bahwa tenaga boleh habis tetapi Semangat tidak akan pernah habis. Dedy tiba di palawangan sembalun sedangkan saya dan diko masih berada dijalur menanjak sedangkan dua teman kami telah berdiam diri di bawah pohon cemara menunggu Evakuasi dan makakan dari bantuan Porter. Untung saja Porter cepat datang dan mengevakuasi dua teman kami yang memang sudah dalam keadaan lelah dan lapar. Nah disinilah Fungsi penting dalam menyewa jasa Porter, selain membantu kami dari menyiapkan tenda ataupun makanan kami, Porter juga befungsi membantu kami dalam Evakuasi ketika kami ada masalah di perjalanan. Porter kami yang bernama Fat dan temannya bernama Farhan membantu kami dengan membawkan kami roti dan selai kacang agar bisa mengganjal perut kami yang sudah keroncongan dan memcoba membantu dua kawan kami yang masih ada di bawah dengan kondisi kelelahan dan kelaparan, bahkan dua kawan kami telah membungkus dirinya dengan sleeping bag agar tidak terlalu kedinginan. Tak lama berjelang kami sampai di Pos terakhir palawangan sembalun. Waktu di jam tangan saja menunjukan pukul sepuluh lima belas menit. Tak lama kemudian dua teman kami telah datang dari evakuasi oleh porter sekitar tiga puluh menit setelah kedatangan saya di pos palawangan sembalun. Kami pun tidak berencana summit ke puncak Rinjani yang merupakan agenda kami kalau subuh ini kami harus summit. Karena kondisi yang sangat kelelahan dan menguras tenaga. Kami memutuskan untuk istirahat dan besok subuh baru kami akan mencoba summit ke puncak Rinjani.
Keesokan harinya kami menikmati pagi di palawangan sembalun dengan keindahan danau segara anak dan gunung baru membuat kami terkagum akan pesona keindahan yang di berikan sang Pencipta kepada manusia bahwasanya karunia yang diberikan melampui akal manusia.
Pagi yang cerah dan mempesona di kelilingi oleh berbagai turis asing yang juga senang mendaki di puncak rinjani ini. Mulai dari bangsa Malaysia, Tahiland, Korea, Jerman, Argentina, Belanda, Brazil dan lain-lain. Mereka memang sengaja untuk menggapain awan di ketinggian 3726 mdpl yang mempesona itu. Tetapi dari mereka menyewa jasa porter satu orang setiap turis yang datang. Jadi untuk makanan apapun yang mereka inginkan selalu di sediakan oleh porter tersebut.
Di pagi yang cerah ini pula ada kegiatan yang menakjubkan, banyak dari Monyet-monyet berdatangan untuk meminta makanan dari para pendaki, itu yang membuat para pendaki terhibur karena tingkah laku dari monyet tersebut yang lucu dan menggemaskan, Monyet tersebut memang liar tetapi tidak kasar dan menyerang pendaki, monyet tersebut hanya mengulurkan tanganya meminta sisa makanan dari para pendaki. Bahkan monyet-monyet tersebut berebut makanan dari lemparan para pendaki. Tak lama waktu berlangsung kabut awan mulai menyelimuti area palawangan sembalun dan monyet-monyet tersebut pun turun kebukit dan seraya hilang begitu saja.

 suasana di Palawangan Sembalun, monyet-monyet liar yang meminta makanan kepada para pendaki.

Ketika sarapan pagi siap dari kawan-kawan yang membuat dibantu oleh porter, kami pun sarapan bersama dan menikmati kopi panas ataupun susu jahe. Setelah sarapan bersama kami mulai berfoto-foto dengan latar puncak rinjani dan danau segara anak dihiasa oleh samudra awan yang mempesona.


 
Di palawangan sembalun kami juga menemui sahabat-sahabat dari berbagai daerah ada yang dari Kota Makassar yang mendaki dengan Sembilan orang ditemani oleh seorang yang memang sering membawa tamu ke puncak rinjani.
Tak terasa siang telah menjelang kami masih menikmati keindahan palawangan sembalun, semakin siang semankin banyak para pendaki yang datang dan mendirikan tenda untuk summit subuh nanti. Porter pun memasak sesuai dengan tugasnya dan sahabat saya Diko Alvika mencoba membuat kue Agar-agar tetapi kami lupa membeli gula, jadi gula digantikannya denga susu cair yang ada di perbekalan. Alhsilnya cukup membuahkan hasil, kue agar-agar tersebut jadi dengan cepat karena memang di palawangan sembalun cukup dingin dan tidak memerlukan freezer kulkas untuk membuat beku kue tersebut. Siang itu juga kami bertemu seorang yang telah melanglang buana di ketinggian gunung di Indonesia bahkan di mancanegara, nama bapak tersebut adalah Asep Serpha. Ia mengantarkan para peserta dari Indos*t Adventure untuk mendaki puncak Rinjani yang sebelumnya dia juga mengantarkan team tersebut di puncak Mahameru. Pak Asep pemilik toko Rumah Petualangan di Depok Jakarta mengajak kami untuk berkunjung ke kediamannya atau ke tokonya. Pak Asep juga bercerita banyak tentang pegunungan di Indonesia dan Mancanegara salah satunya Puncak jaya dan Himalaya. Ia pernah berada di ketinggian dengan hamparan es yang luar biasa. Ia juga mengajak kami kalau ada biaya bisa menghubunginya dan mengantarkan kami ke puncak Jaya Wijaya ataupun Himalaya. Pak Asep sangat Friendly dan bergaul dengan siapa saja, hingga para porter pun banyak yang ia kenal bahkan agak segan ketika bertemu dengan pak Asep. Pak Asep alumni dari WANADRI yang memang berpengalaman dalam Adventure lokal maupun International. Kami bercerita panjang sekali hingga sore menjelang dan menunggu peserta yang belum datang dari indos*t Adventure. Karena pak Asep adalah pendamping dari kelompok tersebut.
Sore yang diselimiti oleh kabut dari gunung rinjani membuat cuaca semakin dingin dan Nampak dari para porter bersiap-siap membuatkan makan malam dari para pendaki. Kami pun bergegas untuk membuat jamuan makan malam. 

(bersambung ke Part 3)

Beberapa Keindahan di Palawangan Sembalun








  


Share: