3 June 2014

MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 3)

MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 3)





Sore menjelang malam, cuaca dingin semakin menusuk hingga tulang dan memaksa kami harus memakai jaket, kaos kaki bahkan kaos tangan yang serba tebal, agar udara dingin di kawasan Palawangan sembalun tidak terlalu kami rasakan. Hingga sahutan Porter kami memanggil untuk menyantap makan malam dengan menu nasi goreng yang di racik oleh Diko Alvika. Kemudian mas Tan bergegas mengambil air di bawah bukit yang memang persedian air kami hampir habis. Kami menikmati makan malam bersama di dalam tenda, makan nasi goreng sosis disertai canda tawa dari sahabat-sahabat saya membuat gairah dan semangat untuk subuh nanti bisa berpijak di ketinggian 3726 mdpl dengan sebutan puncak Rinjani. Tak lama kemudian setelah kami makan malam bersama, Porter kami bernama mas Tan datang dan kami pun mengajaknya untuk makan didalam tenda bersama kami dan merasakan hangatnya canda tawa bersama. Memang dimalam sebelumnya mas Tan tidak tidur di tenda bersama kami, ia tidur bersama sahabatnya yang berprofesi sebagai Porter juga, ia hanya tidur di bawah terpal yang diikatkan dengan tongkat menyerupai segitiga tanpa ada pintu dan beralaskan Sleeping Bag yang rusak.
Setelah mas Tan selesai makan, sahabat saya Lintar Alam juga selesai membuat minuman hangat berupa Susu Jahe, yah mantap sekali malam ini yang begitu riang dan penuh dengan canda tawa pembawa semangat kami nantinya menuju 3726 mdpl. Kami pun tidak segan-segan bertanya dengan mas Tan bagaimana kehidupannya sebagai porter. Mas tan baru sekitar empat bulan menjadi Porter, ia juga biasanya membawa tamu dari mancanegara walaupun pengalamannya baru, tetapi ia sudah cukup cerdas dalam penyajian makanan dan bahasa asing ketiga berkomunikasi dengan tamu mancanegara. Mas Tan berusia tiga puluh tahun dan baru juga menikah. Sebelum ia menjadi Porter ia hanya buruh tani strawbery, bawang merah, bawang putih dll. Tetapi ia berusaha untuk mendapatkan penghasilan lebih makanya ia memutuskan sebagai Porter karena bayarannya lumayan besar dan cukup mengangkat beban yang dipikulnya dengan sebatang bambu. Berat dari pikulannya berkisar dari dua puluh hingga tiga puluh kilogram. Mas Tan pun banyak bercanda gurau dengan kami dengan mendengarkan cerita dari sahabat saya Diko Alvika yang membuat tertawa kami terpingkal-pingkal.
Jam tangan saya menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, itu berarti kami harus istirahat dan bangun jam setengah dua belas malam untuk mempersiapkan diri menuju ketinggian 3726 mdpl dengan trak pasir berbatu yang menenggelamkan kaki kami sama halnya dengan track di gunung semeru dahulu. Kami bersiap untuk tidur sejenak dan memang suasana di palawangan sembalun sangat hening karena dingin dan para pendaki mempersiapkan diri juga untuk mendaki subuh nanti. Terkecuali para porter masih ada saja yang bermain kartu di dalam tenda terpalnya yang di terangi oleh pelita terbuat dari botol dan minyak. Entah kenapa mata saya tidak dapat terpejam seperti halnya sahabat saya  Dedy yang telah nyenyak tertidur hingga mengeluarkan suara dengkurannya. Oya kami mempunyai dua tenda berukuran cukup luas. Saya bersama Dedy dan Lintar disatu tenda sedangkan Diko, Catur dan mas Tan di tenda lainnya.
Waktu Alarm saya berbunyi menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit itu menandakan kami harus bangun dan beriap untuk mencapai ketinggian 3726 mdpl. Seraya kami bergegas dan memperispkan makanan ringan, minuman, bendera, spanduk bahkan alat medis agar kami bisa sampai dengan selamat nantinya di puncak 3726 mdpl. Sebalum kami berangkat kami tak lupa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dan semangat juang dalam melangkah melewati jalur pasir berbatu dengan langkah pasti. Kami berangkat tepat pukul dua belas lewat tiga puluh menit, itu pula kami team yang pertama menjajaki jalur pasir berbatu kemudian team dari Indos*t Adventure di belakang kami berkisar lima belas menit kemudian.
Langkah demi langkah kami lewati dengan penuh semangat dan bertahan dengan dinginnya subuh itu beserta mengatur napas kami yang semakin lama semakin susah bernapas. Karena persedian Oksigen di perjalanan sangatlah berat kami hirup dan hidung kami mulai merah dan mengelaurkan cairan hingga meler. Menurut informasi pendaki dan porter waktu yang ideal untuk melewati jalur pasir berbatu itu sekitar empat jam. Yah itu waktu untuk para pendaki asing dan porter yang memang mempunyai kekuatan fisik yang kuat dan langkah yang cepat.
Selama pendakian kami lewati banyak sekali tumbuhan bunga Edelweis atau bunga abadi. Selama perjalanan juga kami melihat keindahan kota mataram begitu indah dengan lampunya yang menawan dan berbaris bukit, gunung, lautan beserta bulan sabit yang selalu tersenyum melihat langkah kami yang penuh dengan harapan bisa menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl. Tak terasa telah dua jam kami berjalan dengan jalur yang begitu menanjak melebihi jalur di bukit penyesalan. Yah nama jalur ini adalah bukit penyiksaan dimana banyak para pendaki mengatakannya, tetapi bukan kami yang punya begitu besar harapan dan semangat untuk menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl. Apapun kami akan melewatinya dengan tenang, sabar dan Semangat untuk sebuah keindahan yang tersembunyi yang hanya dapat di tatap dengan mata telanjang di atas ketinggian 3726 mdpl. Team posisi kami mulai dari depan Diko Alvika, Lintar Alam, Catur, saya dan Dedy yang berada di belakang. Langkah demi langkah pasti kami ayunkan untuk mencapai puncak. Namun telah ada beberapa Porter dan pendaki asing yang begitu cepat bahkan berlari mengarungi track pasir berbatu itu, sunggung luar biasa memang tenaga dan kecepatannya. Saya pun mencoba mengikutinya tetapi apalah daya tenaga dan langkah yang begitu kecil saya tak dapat saya imbangi.
Jam tangan saya udah menunjukkan skitar jam lima subuh, suara Adzan subuh mulai terdengar dengan merdunya itu juga yang menjadi motivasi saya untuk terus melangkah pasti melewati jalur/bukit penyiksaan ini. Seorang porter menghampiri saya dan memotivasi saya, ayo sudah dekat puncaknya, tinggal satu jam lagi dengan langkah santai pasti bisa nak. Memang tiga ayunan langkah dan satu langkah terperosot kebawah karena pasir dan bebatuan itu. Jalurnya pun tidak terlalu lebar skitar dua setengah meter saja, dan kanan kiri kita adalah jurang yang terjal, kalau tidak konsentrasi dan seimbang bisa jatuh ke dalam jurang. Dan lagi cuaca dingin begitu dekat hingga ke sela-sela jari membuat keputusan harus tetap bergerak agak mendapatkan keringat aagr hangat di seluruh tubuh. Sahabat saya Diko, Lintar dan Catur telah jauh meninggalkan saya dan Dedy dibelakang, tetapi itu tidak menyurutkan kami untuk berhenti dan turun kembali ke palawangan sembalun sebelum menginjakkan kaki kami di puncak 3726 mdpl.
Sahabat saya pun Dedy terus memotivasi dirinya sendiri agar bisa terus melangkah pasti hingga 3726 mdpl. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul lima lewat lima puluh lima menit saya pun berhasil mencapai puncak diketinggian 3726 mdpl. Dengan haru dan sedikit meneteskan air mata, bahwa saya berhasil mencapai dan menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl. Alhamdulillah teriak ku dalam hati begitu bahagianya dan haru duka bisa sejauh ini.
Sahabat-sahabat saya telah lama sampai di Puncak menunggu saya dan dedy tiba, bersama-sama mulai mengambil foto yang sangat bersejarah ini. Tepat pada pukul enam lewat sepuluh kami berlima bersama-sama menuju bendera Indonesia dan Prasasti yang bertulis kan Top/Puncak Rinjani 3726 Mdpl. Kami memasang bendera Organisasi kami yang berwarna kuning yang bertuliskan Keluarga Pelajar Mahasiswa Balikpapan (KPMB) Makassar. Dengan senyum ceria kami mulai mengambil foto bersama.







Di puncak Rinjani memang tempatnya sangat sempit sehingga banyak para pendaki harus bergantian berfoto dengan bendera Indonesia dan prasasti Puncak Rinjani 3726 Mdpl. Para pendaki dari luar negeri begitu banyak memadati puncak ditambah lagi pendaki dari berbagai daerah di Indonesia. Jadi benar-benar ramai dan sesak puncak Rinjani saat itu. Tak lama kemudian kami telah puas mengambil foto-foto dari puncak Rinjani kami pun bergegas turun ke palawangan sembalun. Sebelum kami turun kami juga bertemu dengan pak Asep yang mendampingi Indos*t Adventure juga menyibukkan dirinya mengambil moment-moment indah nan penting hingga sujud syukur ketika berada di puncak Rinjani.

 Suasana di Pucak Rinjani yang sesak dan dipenuhi oleh Pendaki mancanegara dan pendaki Indonesia


Ketika memulai menuruni bukit penyiksaan engkel kaki kiri saya mulai terasa sakit, ketika digerakkan sangatlah perih, jadi saya harus berusaha menahannya dengan menggunakan kaki kanan sebagai tumpuan ketika menuruni bukit penyiksaan yang berpasir bebatuan. Sahabat-sahabat saya Diko, Dedy dan Lintar telah cepat dan jauh didepan meninggalkan saya dan Catur yang memang sepupu saya. Catur memang menjaga saya di belakang agar saya bisa berjalan dengan santai dan aman. Sembari dibelakang dari sahabat-sahabat saya saya dan catur juga mengambil foto-foto yang saya anggap itu mempunyai pesona keindahan dari puncak Rinjani. Begitu mempesonanya danau segara anak dan gunung baru dilindungi oleh awan-awan yang bergantian menutupi puncak gunung baru. Saya benar-benar takjub dan kaget bagaimana awan-awan itu bergantian berjalan dengan sekema berputar mengelilingi gunung baru itu.




Kaki kiri saya semakin perih dan menyiksa ketika berjalan. Seakan ingin selalu berhenti dan duduk sebentar untuk menahan rasa perih di area lutut saya ini. Tetapi kawan-kawan saya telah menunggu di balik batu yang besar untuk bersama-sama berjalan menuruni bukit penyiksaan yang panjang itu. Kami berhenti sejenak dan berfoto bersama dengan background danau segara anak dan gunung baru. Hanya kata Luar Biasa yang dapat kami ucapkan ketika itu.
Saya sampai di palawangan sembalun sekitar pukul sepuluh lewat tiga puluh menit pagi, sahabat-sahabat saya tiba lebih cepat setengah jam dari saya dan catur. Kami pun sarapan dan melepaskan lelah dahulu kemudian bergegas membereskan perlengkapan untuk turun ke desa Sembalun. Awalnya kami berencana untuk turun ke danau segara anak dan mengakhiri perjalanan di desa Senaru. Tetapi persediaan makanan kami tidak cukup dan lagi kondisi kaki kiri saya sudah tidak kuat lagi mengarungi jalur menanjak. Maka kami putuskan untuk turun kembali melewati jalur Sembalun. Karena jalurnya menurun terus sehingga tidak terlalu banyak membutuhkan waktu banyak. Kami tinggalkan palawangan sembalun pukul sebelas siang, dan rencananya kami makan siang di Pos III sembalun.

 Berpose setelah dari ketinggian 3726 mdpl.


 Mas Tan atau yg sering kami sebut Andika.
Baru menurunin beberapa bukit kaki kiri saya mulai terasa sakitnya, dan kemudian sahabat saya Lintar Alam berinisiatif membantu untuk membawakan tas Carrel yang sama bawa, jadi sahabat saya lintar membawa double carrel yang memang kekuatannya telah kembali dibandingkan semalam. Saya pun berjalan dengan bantuan tongkat disebalah kiri saya dan ditemanai sahabat saya Dedy. Pos III extra kali lewati, kami singgah untuk bercerita dengan porter yang juga sedang istirahat, begitu banyak pengalaman dan suka duka dari para porter yang berbagi pada kami. Mulai dari pendaki yang tesesat hingga berbagi social media dan nomor telepon untuk dipromosikan ketika ada teman atau rekan yang ingin menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl bisa menghubungi porter tersebut.
 Menurunin bukit penyesalan dan menuju desa sembalun.

Sesampainya di Pos III kami menyiapkan makan siang terakhir dari ransum yang kami bawa kemarin. Makanan sisa Pop Mie, Kornet sapi dan mie Laf*nte dan bumbunnya. Air pun mulai habis, tetapi Porter kami dengan semangat mengambil persedian air di bawah bukit Pos III. Kami menyantap bersama dan sedikit bercerita tentang perjalanan kami yang kami tidak sangka bisa melalui berbagai rintangan yang diberikan oleh jalur Rinjani. Tak lama kemudia kami melanjutkan menuju Pos II dimana disana ada warga yang berjualan Mie Siram, Pop Mie bahkan Kopi, teh hangat dan minuman berenergi. Walaupun harganya lumayan tinggi dibandingkan di Kota. Memang itulah keuntungan dari ibu yang berjualan di Pos II. Kami pun singgah untuk mencicipi teh hangat dan sembari mengambil nafas karna kelelahan menuruni bukit penyesalan tadi.
Ternyata sahabat-sahabat saya pun banyak cidera di bagian paha, lutut dan jari kakinya yang lecet karena menuruni bukit penyesalan tadi. Tapi tidak lama lagi kami akan sampai di Pos I dan desa Sembalun. Kami meninggalkan Pos II sekitar pukul empat lewat tiga puluh menit, sore itu memang banyak para pendaki yang memutuskan untuk membuka tenda di Pos II dan Pos III. Karna memang disarankan untuk melewati bukit penyesalan haruslah pagi atau siang hari agar tenaga kembali semangat.
Sepanjang perjalanan tadi tak heran para pendaki dengan wajah yang cerah dan bersemangat untuk menuju puncak rinjani dengan penuh percaya diri. Bahwa saja jalur yang sesungguhnya adalah jalur bukit penyesalan. Kami pun tiba di Pos I, beristirahat sejenak dan mengambil nafas kembali, tetapi cuaca semakin gelap dan lagi Porter kami telah lama menunggu kami di persimpangan agar kami tidak menuju jalur lain dimana biasanya pendaki melewatinya, kami melewati jalur dimanan kami harus ke rumah bapak Juhari yang memang ada jalur terpisah dari jalur biasanya.
Oya Insirator untuk biaya penginapan di desa Sembalun bervariasi mulai dari Rp. 150.000,- sampai Rp. 300.000,- permalam, tetapi di rumah bapak Juhari kami meberikan biaya nginap kami dan makan kepada bpk Juhari sebesar Rp. 250.000,- permalam dengan kamar yang luas dan dua kasur besar beserta satu kamar mandi. Bahkan diberikan Informasi bagaimana cara menaklukkan jalur di Rinjani. Sangat bermanfaat bagi kami.
Alhamdulillah kami sampai di Desa Sembalun, dirumah bapak Juhari tepat pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit, ,malam itu sahabat-sahabat saja begitu sampai bercerita sedikit dengan pak Juhari bagaiaman perjalanan yang kami lalui. Kemudian istri dari bpk Juhari menyiapkan makan malam untuk kami. Sekali lagi sangat sederhana tetapi sangat istimewa bagi kami karena begitu laparnya kami hingga melahap semua makanan yang di sajijkan. Tak begitu lama, sahabat-sahabat saja mandi atau bilas-bilas diri dan cuci muka, kami semua mulai terlelap dalam mimpi kami masing-masing. Sehingga tidak sanggup lagi berbincang dengan tuan rumah, bpk Juhari.
Kami akhiri perjalanan kami Menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl di puncak Rinjani dengan suka cita dan Semangat agar menjadi suatu motivasi bagi Inspirator bahwa segala sesuatu yang di awali dengan niat, usaha agar bisa terwujud juga harus disertai Doa dan Semangat.

--- Perjalanan kami menuju Pulau Gili Trawangan ----
Share:

17 April 2014

Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok - Mataram

Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok - Mataram.

Oke Inspirator, sekarang kami membahas tentang cerita rakyat suku Sasak di Lombok pulau Mataram. Kenapa admin mengangkat Cerita dari Lombok ini, karena admin berencana menelusuri keindahan alam Lombok Mataram,  Salah satunya pendakian puncak gunung Rinjani besera sungai Muara Anak.
Nah sekarang nih ceritanya :



Pulau Lombok luasnya sepertiga dari luas Pulau Sumbawa. Namun, penduduk Nusa Tenggara Barat yang berjumlah lebih dari tiga juta, dua pertiganya tinggal di Pulau Lombok. Hal ini terjadi karena Pulau Lombok lebih subur dari Pulau Sumbawa. Penduduk Pulau Lombok adalah orang Sasak. Mereka sebagian besar memeluk agama Islam.

 Lombok dan Sasak adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Nama Lombok untuk sebutan pulaunya, nama Sasak untuk sebutan suku bangsanya. Lombok berasal dari bahasa Sasak; “lombo,” artinya “lurus”. Sasak sebenarnya berasal dari “sak-sak” yang artinya “perahu bercadik”.

Namun, banyak orang yang salah mengerti. Lombok diartikan “cabe” sehingga ada yang mengartikan pulau Lombok sebagai “pulau pedas”. Padahal cabe dalam bahasa Sasak adalah “sebia” (dibaca “sebie”)
 

Cerita di bawah ini akan menjelaskan asal usul mengapa disebut Lombok dan Sasak. Nama Lombok dalam berbagai cerita lisan maupun tertulis dalam takepan lontar adalah salah satu nama dari Pulau Lombok. Nama lain yang sering disebut adalah pulau “Meneng” yang berarti “sepi”. Ada yang menyebut “Gumi Sasak”, ada yang menyebut “Gumi (bumi) Selaparang”, sesuai dengan nama salah satu kerajaan yang terkenal di Lombok pada zaman dulu, yaitu kerajaan Selaparang.

Pulau Lombok sejak zaman kerajaan Majapahit sudah terkenal. Hal ini terbukti dengan disebutnya dalam buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. Negarakertagama ditemukan juga di Lombok.

Legenda masyarakat Sasak menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Pramudawardhani yang kawin dengan Rakai Pikatan. Konon sang Permaisuri adalah seorang ahli pemerintahan, sedangkan sang suami ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke Pulau Sumatra, ke timur sampai ke Pulau Flores. Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik.

Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja.

Demikianlah mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang.

Mereka lurus ke timur tersebut. Selanjutnya, Lomboq kini tidak hanya menjadi nama pelabuhan tempat perahu itu mendarat, tetapi juga menjadi nama pulau Lomboq yang kemudian berubah menjadi Lombok. Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang disebut “sak-sak”, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak Yang berarti orang yang datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada waktu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin sekarang Sembalun dan Sambelia). 


Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban, Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka. Jika datang ke Lombok, orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang.

Kerajaan Lombok kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan baru Yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama kerajaan Selaparang.

Kapan nama Lomboq berubah menjadi Lombok, dan nama Sak-Sak berubah menjadi Sasak tidak diketahui secara pasti. Yang jelas sekarang pulaunya terkenal dengan nama Pulau Lombok dan suku bangsanya terkenal dengan nama suku Sasak. Nama Selaparang Sudah diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol dan nama lapangan terbang di Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat.

##sumber :lombok-cyber4rt.blogspot.com | Picture :hobijajan.blogspot.com##
Share:

4 March 2014

Beras Basah Island

BERAS BASAH ISLAND.

Keindahan bawah laut Beras Basah Island


 Beras basah island (*gambar)


Beras Basah Island, Pulau yang berada di Kota Bontang Kalimantan Timur, pesona bawah laut yang mempesona dan menakjubkan, banyak sekali terumbu karang dan ikan nemo besera jenis ikan hias lainnya yang membuat betah untuk snorkeling di pulau tersebut.

Perjalanan kami berawal dari kota Balikpapan menuju Beras basah island ditempuh skitar 5 jam menggunakan sepeda motor. Awalnya kami berangkat hanya tujuh orang yaitu Hasbi, Ikmal, Danus, H. Maulid, Aswan dan Jerman. Kami start dari Balikpapan menuju Samarinda jarak tempuh sekitar 121 KM. 

Waktu kami berangkat dimulai dari jam 03.00 pm dengan kondisi hujan yang menyertai perjalanan kami, tetapi hujan tidaklah meyurutkan semangat kami untuk menuju tujuan kami, kemudian kami singgah di pertengahan jalan untuk istirahat sembari meluruskan badan dan ngopi di daerah kilometer 54. 

Disana banyak warung yang menyediakan makanan dan minuman untuk para pengendara beristirahat. Ketika kami beristirahat ada teman lama yang kami kenal waktu di Makassar dahulu, yah nama nya Hendri Saputra tetapi lebih di kenal dengan panggilan "Ceper" yah karena bentuk tubuhnya yang mungil dan lucu, entah mengapa sebutan nama itu melekat hingga sekarang. Hendri ceper pun beserta istrinya bergabung bersama kami untuk mengikuti perjalanan ke Beras basah island.

Sesampai di Kota Samarinda kami pun menunggu teman yang mempunyai peralatan Snorkeling, tenda dan Alat Memasak yang nantinya digunakan di Pulau beras basah. Yah teman tersebut aktif di Mapala Universitas Mulawarman yang bernama Yakin adik kandung dari H. Maulid. kami pun bergegas untuk menuju kota Bontang karena waktu semakin Malam dan Sang markopolo (yang punya Kapal) terus menghubungi kami untuk memastikan berlayar ke pulau Beras Basah. Waktu tempuh kota Samarinda ke Bontang skitar 116 KM dengan kondisi jalan raya yang banyak lubang, jadi ketika melakukan perjalanan kami sangat hati-hati dan harus terus berkonsentrasi karena banyaknya lubang yang bertaburan dijalan provinsi tersebut.

ketika sampai di Kota Bontang, kami bergegas ke Pelabuhan untuk berlayar menuju Beras basah Island. sang Marcopolo pun menanti kami, sebelum kami berlayar kami membeli ransum or makanan untuk di Pulau tersebut, karena di pulau tersebut tidak ada Penerangan dan Rumah untuk di sewa menginap. jadi kami harus membawa tenda, alat masak secukupnya.

Berlayar dari pelabuhan Bontang menuju Beras Basah Island di tempuh sekitar 40 Menit mengunakan perahu nelayan. sesampai di pulau kami bersedia untuk membangun tenda dan menyalakan penerangan dengan api unggun. serta menyiapkan makan malam dengan ikan yang akan kami bakar dan makan bersama.

Perjalanan menuju Beras Basah Island dengan Perahu Nelayan Besama Hasbi, Jenk2, H. Maulid besera teman-teman Lainnya yg duduk di depan Kami. Persiapan membuat Api unggun dan Menunggu Ikan bakar untuk di makan bersama.



 Sembari menikmati udara malam di Beras Basah Island. Beristirahat di Pendopo yang ada di sana. Menikmati Suasana Dermaga yang panjang nan indah. Melalukan persiapan Untuk Snorkeling.

Ayo menikmati Alam bawah laut Beras basah Island


 bersama hasbi, Jenk2, Aswan, Hendri dan Danus




 Bersama Ikmal dan Danus


Uniknya di pulau tersebut hanya memiliki dua rumah penduduk yang menjaga pulau itu dan bangunan untuk beribadah atau Mushollah dan Tower Mercusuar. Rumah penduduk yang hanya dua itu menyediakan Toilet untuk para pengunjung. Mereka juga menyedikan makanan ringan dan minuman siap saji, hanya saja yah karena di pulau tersebut semuanya dibayar dengan harga yang lumayan mengeruk kantong. Harga untuk Air bersih 5 liter atau satu Jerigen seharga Rp. 10.000,- jadi ketika kalian mau bilas ataupun buang air besar memputuhkan sekitar 2 atau 3 jerigen. Harus pandai menghemat air karna persediaan air bersih di pulau tersebut sangat terbatas.

Untuk biaya ke Beras Basah Island sangatlah terjangkau dan menyenangkanserta menarik perhatian bagi para pecinta Alam bawah laut.

Ketika snorkeling harus hati-hati dengan Bulu babi yang beracun dan membahayakan diri kita sendiri.

Penulis sedikit Selfies

Pesan penulis.
keindahan Alam bawah air yang begitu menakjubkan harusnya bisa terawat dan menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun asing untuk menikmatinya, hanya saja pengelolaan yang seadanya dan campurtangan pemerintah sangatlah dibutuhkan untuk melestarikan kekayaan alam indonesia khususnya Kota bontang. Serta kebersihan Beras Basah Island harus terus menjadi perhatian pengelola dan di fasilitasi oleh warga setempat dan pemerintah.

Bontang 020314.


keterangan *gambar di ambil di google.com
Share:

21 February 2014

Kehilangan Arah.

Kehilangan arah.

Kehidupan ini harus mempunyai tujuan yang jelas,
kehidupan ini harus menjadikan sesuatu yang bermanfaat,
kehidupan ini harus terus dijalani dengan tanggung jawab,
kehidupan ini harus senantiasa disyukuri.

waktu yang memberikan pilihan untuk terus hidup,
waktu yang memberikan semangat akan tanggung jawab,
waktu yang memberikan pola pikir berubah,
waktu yang memberikan kita gelar tua,
waktu pula yang akan meninggalkan kita.

Dalam beberapa bulan terakhir ini terkadang akan jenuh dan serasa kehidupan
ini berjalan monoton dan membebani hidup seakan waktu yang menguasaiku dan mengendalikan semua pikiran menjadikan itu adalah masalah.

aku terus berusaha untuk keluar dari pikiran majemuk yang lahir dari egoku untuk bertahan bahwa aku adalah diriku sendiri, yang bisa menguasai jiwa dan ragaku adalah aku.

semua hal yang terjadi dalam diriku ini adalah bias dan seakan khayalan diri ku sendiri dari dunia mimpi. tapi itu nyata dan berjalan dengan semesta alam yang tercipta.

Apakah aku angkuh dan terlalu keras untuk membuktikan bahwa diriku ini nyata dan benar-benar lahir sebagai insan pengabdi dan bersosial ?

Apakah aku terlalu fanatik dan sombong dengan tidak memanfaatkan peluang yang diberikan dengan sebuah kasih sayang ?

Apakah aku telah menyakiti pikiran ku untuk berusaha keluar dari kenyamanan yang diberikan selama ini ?

Apakah aku telah siap dan kuat untuk mengakhiri semua beban, semua masalah, semua waktu dan semua kehidupan ?

Hidupku seakan kembali pada masa lampau yang tidak berpikir akan masa depan, seakan aku hidup hanya untuk diri ku sendiri.

Kuangkat kedua tangan ku dan menundukan kepalaku serta berbisik mengucapkan maaf dan terus berbisik untuk diberikan petunjuk atau arah kehidupan yang seimbang dengan waktu yang sedang berjalan ini agar aku bisa menemukan arah yang terang menuju kebebasan jiwa dan pikiran, senantiasa air mata ini tak tertahankan untuk menetes.

Dua hari kelak dimana waktu memberiku gelar tua dimana waktu aku terlahir dan siap menanggung semua masalah dan kebahagiaan dengan tujuan masa depan dunia dan akhirat pastinya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11 ( Ar-Ra'd ayat 11)

Percayalah akan karunia dan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa.
jika kehilangan arah bahkan bingung akan teka-teki hidup ini, jangan sungkan akan meminta walaupun berbisik bahkan meneteskan air mata sekalipun untuk menerima jawaban yang fantastis dan luar biasa dari sang Pencipta.

#Jumat Barokah
03.24 am

aJHIR - 21021
Share:

28 August 2013

Indera yang semu.

Indera yang semu.

Terkadang apa yang terlihat seperti sangatlah mewah,
Terkadang apa yang terdengar seperti sangatlah luar biasa,
Terkadang apa yang tersentuh seperti sangatlah membangakan,
Terkadang apa yang terhirup seperti sangatlah mengagumkan,
Terkadang apa yang terasa seperti kenikmatan tiada tanding.

Semua yang ada dalam benak ku dalam segala hal terproses oleh indera ku menyempurnakan status sosial yang tinggi dan memang sebagai tujuan untuk membaggakan hasil dari kerja keras dan semangat untuk memiliki apa yang telah tersedia.

ku terlalu sering melihat senyum yang biasa namun menjadi luar biasa ketika mengendarai sebuah mobil mewah atau pun berada di teras rumah yang megah.

ku terlalu sering mendengar bahasa yang biasa namun menjadi luar biasa ketika membicarakan proyek ataupun usaha yang nominalnya ratusan juta rupiah ataupun Miliaran rupiah.

ku terlalu sering menyentuh beberapa barang yang biasa namun menjadi luar biasa ketika di beri sentuhan unik dan membanggakan dengan logam mulia ataupun permata Berlian.

ku terlalu sering menghirup beberapa wewangian yang biasa namun menjadi luar biasa ketika mempunyai brand seorang artis atau tokoh terkenal dan dipakai oleh artis/tokoh yang lagi populer.

ku terlalu sering merasakan hidangan yang biasa menjadi luar biasa ketika berada pada sebuah menu yang didirikan oleh orang terkenal dengan kelezatan makanannya.

Kemudia pencapaian semua itu memang sebuah prestasi ketika mendapatkannya dari usaha kerja keras dan semangat hingga melewati masa-masa sulit hingga mengorbankan nyawa sekalipun. Itulah yang menjadi Support dan Spirit untuk generasi akan datang, 


Bukan nya hanya generasi yang akan datang cuma menikmati hasil apa yang telah tercapai dari kerja keras dan pengorbanan pendahulu nya.

berbanggalah dengan apa yang telah tercapai dari perpaduan indera yang memaksimalkan usaha dan kerja keras dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

bersyukurlah dengan apa yang telah terpenuhi dari perpaduan doa dan kerja keras yang memaksimalkan kesehatan dalam menuntut kebutuhan hidup.

Memanfaatkan indera sebaik-baiknya dengan bijaksana adalah cerminan dalam menata kehidupan yang sederhana nan berkelas.

Tak ada yang sia-sia dari anugerah yang di ciptakan oleh Tuhan YME. semua bermanfaat dan menghasilkan sebuah kebahagian.

hanya saja manusia yang lebih mengendalikan dan memanfaatkan nya dengan sebaik-baiknya.

Balikpapan, 28.08.2013
aJR.
Share: