10 January 2016

Kamar Penuh Arti

Sore ini begitu teduh nan damai, kopi hitam dan sengatan cahaya matahari senja begitu nikmat dan sejuk.

Berpikir keras akan kehidupan setelah ini, tdk lagi aku duduk dan menikmati apa yg sekarang aku rasakan.

Minggu depan, aku akan menjalani perintah sunnah rasul mu ya Allah, aku akan menjadi sosok suami dan ayah nantinya.

Aku akan meninggalkan kedua orang tuaku untuk menjalani keluarga baru bersama sang istri. Tapi percayalah aku tidak akan meninggalkan secara tanggung jawab seorang anak yg selalu membantu dan mengurus mu ayah dan ibuku yg selalu aku banggakan.

Memang polemik hidup ini aku tanggung secara rasional dan berani melangkah Karena usia tidak lagi muda. Berbagai cara aku tempuh untuk bisa melaksanakan acara pernikahan secara sederhana dan khidmat.

Sahabat dan keluarga pun turut membantu dalam proses ini, aku sangat berterima kasih dan salut, karena kerja keras kalian sangat gigih tanpa pamrih.

Kuakui biaya yang tercurah tidaklah murah, hasil kerja keras ku selama lima tahun harus mengalir dan menjadi pikiran ikhlas untuk sebuah prosesi dua adat dan dua resepsi pula, agar harkat martabat keluar bisa dinilai keluarga besar kesuksesan orang tua dalam mendidik anaknya hingga bisa membuat acara resepsi besar, megah dan mengundang semua keluarga yang ada di pelosok sulawesi.

Tenaga, pikiran dan pengeluaran kalian akan selalu menjadi ibadah, walaupun aku tak bisa membayarnya secara tunai. Tapi Allah sang Maha bijak dan perperkasa akan selalu memberikan kalian umur, kesehatan dan finansial yang cukup. Amin ya rabbal alamin.

Balikpapan, 10 january 2016. 17.50
Kamar MabesInspiration
Share:

8 October 2015

Persinggahan Terakhir

Persinggahan Terakhir..

Dinamika hidup menjadikan aku bergairah untuk terus berkarya.
Polemik masalah yang diberikan menjadikan ku bersemangat untuk berpikir.
Kesengsaraan ini yang membuat aku terus mencari kebahagian.
Kesedihan ini yang telah mencerahkan jiwa ku untuk bersyukur.
Kekayaan dan Kesuksesan ku ini pun,
yang mengingatkan ku pada Persinggahan Terakhir,
yang berukuran dua kali satu.
Akan lenyap dan musnah semua yang telah ku perbuat di Bumi ini.
Adapun Sisa Khilafku/salahku yang belum sempat TerMaafkan akan kubawa dan
kupertanggungjawabkan dihadapan Ilahi Rabbi.
 Ku Pastikan siap untuk menerima siksaan yang telah aku perbuat di Bumi ini.

Ku titipkan semua nasehat baik dan pengalaman bermanfaat ku
untuk membantu ku di padang pertanggung jawaban nanti.

Hanya Amal Jariyah, Anak Sholeh dan Ilmu yang bermanfaat yang bisa membuatku tersenyum dan bahagia di Akhirat kelak.

Umurku adalah tabungan persingahan terakhirku di dunia ini.

aJHIR Saputra 071015, Balikpapan-Markas team Payrol
Share:

27 February 2015

Sebuah Remote Untuk Robot

Sebuah Remote Untuk Robot.

Mencintai bukan sekedar keegoisan semata.
Menyayangi bukan sekedar materi yang berlimpah.
Merindukan bukan sekedar alasan bertemu.

Alahkan indahnya hidup diantara kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh insan yang saling mencintai, begitupula kenyamanan saling menyayangi hingga batas kenormalan, pilihan dan memilih adalah sikap diantara keputusan dalam proses kehidupan.

Adakala senang dan bahagia, adakala emosi dan membenci dari apa yang membuat hidup ini lebih bernilai atau lebih tertantang dengan segala kemajemukan hidup yang monoton.

Aku sadar bukanlah sosok dari keinginan mu dan orang tua mu agar membawamu ke akhir cerita cinta yang semu dan hanya berbuat kenistaan diantara Kalian.

Aku juga sadar akan kehendak ku untuk bisa menjadikan diriku imam dan membawamu kearah yang baik sebagai makmum yang sholeha.
namun usaha itu harus aku sadari telah mencapai kegagalan yang membuatku kehilangan arah akan tujuan hidup ku yang sesunggunya.

memang lelah menjadi sebuah remote untuk robot yang baik dan penurut dan saling perhatian akan konsumsi hidup ini, tapi kita tidak memahami akan fungsi dari kehidupan ini yang telah menjerumuskan kita kedalam kenikmatan dunia yang menjadikan kita makhluk hina diantara butiran debu.

Aku menyayangi mu dan terus berdoa agar kelak  kau mendapatkan pasangan yang baik, sesuai dengan keinginan mu dan orang tua mu agar kau saling menyanyangi hingga puncak mencintai membahagiakan dunia akhirat.

maaf ku untuk mu bunga ku,
maaf ku untuk sebaik-baiknya wanita ku,
cinta ku akan ada dikehidupan lainnya yang lebih kekal.

aJHIR. 210214.
Share:

29 November 2014

Generasi Patah Arang

Generasi Patah Arang.

Status Mahasiswa menjadi Kebanggan Orang Tua,
Orang tua percaya akan anaknya yg belajar lebih tinggi,
Lebih tinggi menggapai Cita dan Menaikkan martabat keluarga,
Keluarga yang penuh dengan pengharapan akan kesuksesan,
Kesuksesan yang seakan mimpi menjadi kenyataan,
kenyataan melihat anak mereka Sukses dan berhasil,
Berhasil dari pencapaian kemapanan dan kekayaan,
Kekayaan akan materi dari hasil kerja kerasnya.

Kerja kerasnya berbuah senyuman dari orang tua,
orang tua semakin semangat untuk tetap hidup,
hidup dalam kegemilangan suasana yang bahagia,
Bahagia akan upaya cinta dan kasih selama mendidiknya,
mendidik untuk tetap jujur dan Ikhlas dalam bekerja,
Bekerja penuh dengan Loyalitas dan Royalitas.

Namun semua itu hanya sementara,
sementara anaknya yang tumbuh dan besar akan kesuksesan,
kesuksesan dari hasil yang Haram,
kesibukannya bukan karena Akhrat,
namun karena kenikmatan Dunia
maka apapun yang menghasilan kenikmatan dunia
akan selalu dikejar hingga pencapaian nya terealisasi
KORUP, KOLUSI dan NEPOTISME adalah caranya ia Sukses

Maka Keberhasilan orang tua akan menjadi sia-sia
Air mata yang seharusnya untuk kebahagianya anaknya
tumpah karena kebodohan perilaku dan cara berpikir anaknya
anaknya pun harus menerima konsekuensi dari perbuatan haramnya
harus mendekam, di caci maki dan disorot sebagai penjahat
sedangkan orang tua dan keluarganya harus menanggung malu berkepanjangan
bahkan harus mengungsi dari masyarakat.

inilah Generasi Patah Arang
sudah Patah dan jadi Arang Pula.

aJHIR. Balikpapan 29 November 2014.
Share:

3 June 2014

MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 1)

MENGGAPAI AWAN 3726 MDPL (Part 1)
Bagi para inspirator, saya akan berbagi cerita tentang cita dan pengalaman yang berawal dari sebuah niat dan semangat yang tumbuh dari hati kecil untuk mewujudkankan apa yang kebanyakan orang hanya bisa bermimpi tapi tidak mempunyai niat dan semangat untuk menggapai awan dengan sejuta pesona diketinggian 3726 mdpl.

Pada awal mulanya saya mendaki gunung Bawakaraeng dengan ketinggian 2830 mdpl di kabupaten Gowa Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Agustus 2008 bersama dengan rekan-rekan Asrama KPMB Makassar dan NIZEP Adventure.

Kemudian pada tanggal 12 May 2013 saya telah berpijak di ketinggian 3676 mdpl Puncak Mahameru gunung Semeru. Begitu penuh semangat dan keyakinan bisa berada di Pucak Mahameru sangatlah haru dan bahagia, karena rintangan dan Traking sangat menantang. Bisa kalian baca ceritanya di sini.

Nah sekarang saya akan menceritakan bagaimana pesona keindahan diketinggian 3726 mdpl. Kalo mau diceritakan pesona keindahan yang begitu menakjubkan dan berkesan sangatlah tidak bisa di bahasakan dan artikan dengan dengan sebuah kata “Menakjubkan” saja, tetapi harus dibuktikan dengan melihat langsung dengan mata telanjang bagaimana Menakjubkan nya itu.




Dari Kiri Berdiri : Ajhir, Dedy, Catur
Dari Kiri Duduk : Diko dan Lintar

Team kami hanya berlima, beranggotakan Asdedy, Diko Alvika, Lintar Alam, M Catur dan Saya sendiri tentunya. Saya, Dedy dan Diko Berangkat dari Kota Balikpapan menuju Lombok Timur sedangkan Lintar dan Catur berangkat dari Kota Makassar.

 Bandara Internasional Lombok, Mataram
Kami memang berencana Bertemu di Bandara International Mataram dan melanjutkan perjalanan ke desa sembalun Kecamatan Lombok Timur. Alhamdulillah kami diantar oleh salah satu Supir yang bernama Agus, ia memang biasanya mengantar tamu yang ingin mendaki ke gunung Rinjani, ia pula yang mengarahkan kami untuk menginap disalah satu warga Sembalun yang berprofesi sebagai Guru. Bapak Bajuari nama guru tersebut, ia sangat ramah dan sangat membantu memberikan Informasi tentang bagaimana Tracking / Jalur ketika mendaki gunung Rinjani. Bapak Bajuari pula yang menyarankan kami agar memakai Porter untuk membantu pendakian kami lancar, memang sih awalnya kami tidak ingin memakai Porter untuk mendaki tetapi untunglah kami memutuskan memakai Porter karena memang sangat membantu. Nanti saya ceritakan kehebatan dan kenapa harus memakai jasa Porter.

 Didalam perjalanan menuju Desa Sembalun, Kami singgah mengisi lambung tengah dengan menu sederhana nan berkesan.

Sebelum Memulai pendakian, berfoto bersama dengan Pak Juhari.

Pada tanggal 22 May 2014 kami memulai petualangan kami untuk menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl, sebelum memulai pendakian saya meregistrasi kawan-kawan di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Biaya Regitrasinya sebesar Rp. 5.000.- perorang dan Perhari untuk Pendaki Lokal.

Dikantor Registrasi Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).


Kami harus melewati tiga pos dan dua pos extra. Kami memulai perjalanan pada pukul sembilan pagi dari desa Sembalun menuju pos I waktu yang kami tempuh sekitar dua Jam yang berjarak 1,300 M, melewati kebun strawbery dan padang savana dengan keindahan bukit teletubies yang luas dan panas. Kami istirahat di Post I mengatur napas dan mecoba meluruskan badan sejenak untuk menambah kekuatan kami. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pos II dengan jarak tempuh 1,500 M waktu yang kami habiskan sekitar 2 Jam, karna jalurnya menang sudah mulai menanjak dan melewati bukit-bukit indah yang seakan memberikan senyum kepada kami untuk tetap semangat. Seperti halnya di pos I kami pun beristirahat dan makan siang di Pos II, karena waktu menunjukkan jam satu siang. Tenaga pun harus diisi dengan karbohidrat dan energi agar bisa menggapai awan di ketinggian 3726 mdpl. Ketika kami berada di Pos II kami bertemu dengan team dari Indos*t Adventure yang juga melakukan pendakian, mereka rombongan yang beranggotakan sekitar 28 Orang. Tetapi dua orang duluan dan rencana menginap di Pos III. Sisanya akan memulai pendakian pada esok harinya. Setelah makan siang, sekitar jam satu lewat empat puluh lima menit siang kami melanjutkan untuk ke Pos III yang berjarak 1,800 M dengan jarak tempuh sekitar 2,5 jam, Sesampai di Pos III Extra kami Istirahat Sejenak untuk mengambil air. Karena persedian air kami telah habis. Kami pun mengambil air dibawah bukit yang jaraknya dekat hanya saja sangat curam. Jadi harus berhati-hati ketika menuruni bukit tersebut. Air yang kami ambil bukan dari aliran sungai tetapi air genangan yang ada di lubang tanah yang harus di tenangkan dengan ranting pepohonan agar pasirnya tidak naik kepermukaan. Airnya sangat segar dan tidak berbau hanya saja harus sabar agar pasir nya tidak naik kepermukaan ketika mengambil air. Jarak dari Pos III extra ke Pos III yang sesungguhnya tidaklah jauh sekitar 200 M dengan yang bisalah di tempuh dengan waktu empat puluh lima menit yang melintasi satu bukit yang menanjak.


 Istirahat di Pos 1.

 Makan Siang di Pos 2.



Oya ada cerita unik nan lucu yang membuat kami tidak akan melupakannya, sahabat saya Diko alvika dengan semangatnya membawa tas ransel yang dia kira adalah tas dari porter yang kami sewa, tetapi ketika di perjalanan ia menanyakan apakah tas ransel tersebut milik poter itu, tetapi porter itu menjawab bahwa tas ransel itu bukan miliknya. Jadi kami semua tertawa terbahak bahak karena Diko begitu bersemangat hingga tas yang ia bawa adalah milik dari sahabat porter yang mengantarkannya ke rumah pak Juhari. Jadi selama perjalanan kami selalu bercanda kalo tas yang di bawa diko itu adalah tas siapa..??
Sesampainya di Pos III kami beristirahat dan bercanda sejenak agar rasa lelah kami bisa berkurang menambah semangat untuk benar-benar melangkah melewati Bukit Penyesalan yang memang medannya sangat-sangat-sangat-sangat menanjak membuat kami yang baru melewatinya sangat kelelahan dan kelaparan. Kami meninggalkan Pos III menuju Palawangan Sembalun yang berjarak 2,639 M dengan waktu normal dapat di tempuh selama 4 Jam (yah waktu untuk kekuatan Porter, Turis Asing dan pendaki yang sering melewati bukit Penyesalan). 

 Melepas Lelah di Pos 3.

Kami meninggalkan Pos III sekitar jam 16.00 dengan semangat dan penuh percaya diri bisa menaklukkan bukit penyesalan. Baru melangkah dari Pos III menuju Pos Extra sudah menggabiskan setengah kekuatan kami tetapi tidak akan pernah menghabiskan Semangat dan Niat kami untuk menggapai awan diketinggian 3726 Mdpl. Kami terus berupaya melangkah dan melangkah agar bisa sampai di palawangan sembalun, hingga matahari terbenam kami masih berada di area bukit penyesalan yang kami anggap tidak berujung dan selalu membuat kekuatan kami hampir habis, itu membuat psikologi kami hampir putus asa tidak dapat melanjutkan perjalanan dimana malam pekat beserta dinginnya area tersebut membuat kami harus banyak beristirahat dengan beban pundak yang berat, beban menahan lapar dan beban menahan dinginnya udara tersebut. Jam tangan ku menunjukkan sekitar jam delapan malam kami masih melangkah melewati bukit penyesalan ini. Salah satu dari kami masih terus memberikan semangat dan motivasi agar tetap semangat dan mampu melangkah agar sampai di Palawangan Sembalun. Semangatnya pun beraneka ragam mulai dari bahasa “Bonus” jalanan datarlah, jalanan menurunlah padahal tidak ada jalanan itu. Ataupun semangat palawangan sembalun sudah dekat tinggal satu bukit lagi. Padahal masih jauh jarak yang kami harus tempuh. Satu jam berlalu ketika saya melihat jam tangan dan kondisi teman-teman semakin lemah dan lemas. Dikarenakan persediaan air minum mulai habis begitu pula makanan kecil yang kami bawa masing-masih telah habis. Kami hanya berharap bagaiama cara bisa melewati bukit penyesalan ini dengan cepat dan sampai di Palawangan sembalun untuk meminta pertolongan Porter untuk membawakan kami makanan dan menolong beban kami ini. Kami memang Lemah dan Lelah tetapi sekali lagi kami tidak akan kehabisan semangat untuk Menggapai Awan di ketinggian 3726 mdpl.  

(bersambung ke part 2)


Keindahan selama perjalanan kami dari desa Sembalun hingga Pos 3


 Itu tas Ransel siapa yang kau bawa Diko Alvika.. ?? heheee
 
Share: